Macaseo.com - Membangun startup dari nol bukan hanya soal menemukan ide yang bagus. Cepat atau lambat, founder juga harus memikirkan bagaimana produk dikembangkan, tim dibentuk, kebutuhan operasional dibiayai, dan ide tersebut divalidasi di pasar.
Di sinilah pre-seed funding menjadi salah satu istilah penting dalam dunia startup.
Pre-seed funding merupakan pendanaan pada tahap sangat awal, ketika startup biasanya masih berada pada fase ide, prototype, MVP, atau validasi awal. Pada tahap ini, perusahaan mungkin belum memiliki revenue yang stabil, bahkan belum menghasilkan pendapatan sama sekali.
Namun, pre-seed funding bukan sekadar tentang mendapatkan uang dari investor.
Pendanaan ini seharusnya digunakan untuk mencapai milestone penting: membangun produk, menguji masalah dan solusi, memperoleh pengguna awal, membentuk tim inti, melakukan riset pasar, dan menghasilkan bukti bahwa startup memiliki potensi untuk berkembang ke tahap berikutnya.
Lalu, apa sebenarnya pre-seed funding, siapa yang biasanya memberikan pendanaan, berapa dana yang perlu dicari, dan apa saja yang harus disiapkan founder?
Mari bahas secara lengkap.
Apa Itu Pre-Seed Funding?
Pre-seed funding adalah pendanaan pada tahap paling awal dalam perjalanan sebuah startup, biasanya sebelum startup memasuki seed round.
Pada tahap ini, startup dapat berada dalam kondisi yang sangat beragam. Misalnya:
- masih berupa ide;
- sudah melakukan riset masalah;
- memiliki prototype;
- sedang membangun MVP;
- baru mulai mendapatkan pengguna;
- sedang melakukan validasi pasar;
- belum mempunyai revenue;
- atau sudah mempunyai traction awal tetapi belum cukup matang untuk seed round.
Tidak ada satu definisi universal mengenai batas pre-seed. Dalam praktiknya, istilah ini dapat digunakan secara berbeda oleh founder, investor, dan ekosistem startup.
Yang lebih penting adalah memahami tujuan pendanaannya.
Pre-seed biasanya digunakan untuk membantu founder mengubah sebuah konsep menjadi sesuatu yang dapat diuji dan dibuktikan.
Dengan kata lain:
Ide → Prototype → MVP → Validasi → Traction Awal → Seed
Pre-seed berada di bagian awal perjalanan tersebut.
Mengapa Startup Membutuhkan Pre-Seed Funding?
Membangun startup membutuhkan biaya bahkan sebelum perusahaan menghasilkan pendapatan.
Founder mungkin perlu membayar:
- pengembangan produk;
- software dan infrastruktur;
- biaya legal dan pendirian perusahaan;
- riset pasar;
- desain;
- perekrutan anggota tim;
- pemasaran awal;
- pengujian produk;
- customer acquisition;
- dan biaya operasional lainnya.
Masalahnya, pada tahap ini startup belum tentu mempunyai revenue yang cukup untuk membiayai semuanya sendiri.
Pre-seed funding dapat memberikan runway agar founder memiliki waktu dan sumber daya untuk membuktikan beberapa asumsi paling penting dalam bisnis.
Misalnya:
Apakah masalah yang ingin diselesaikan benar-benar penting?
Apakah pelanggan bersedia menggunakan solusi tersebut?
Apakah mereka bersedia membayar?
Apakah produk dapat dibuat?
Apakah founder mampu membangun tim dan mengeksekusi rencana?
Apakah terdapat pasar yang cukup besar?
Jadi, tujuan pre-seed bukan hanya "mendapatkan modal", tetapi menggunakan modal untuk mengurangi ketidakpastian bisnis dan mencapai milestone berikutnya.
Berapa Besar Pre-Seed Funding yang Bisa Didapatkan?
Tidak ada satu nominal yang berlaku untuk semua startup.
Besaran pre-seed funding dapat berbeda berdasarkan:
- negara dan kondisi pasar;
- industri;
- model bisnis;
- kebutuhan pengembangan produk;
- ukuran tim;
- tingkat traction;
- pengalaman founder;
- kebutuhan modal;
- runway yang diinginkan;
- dan ekspektasi investor.
Karena itu, founder sebaiknya tidak menentukan target hanya dengan mengikuti angka yang diperoleh startup lain.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Berapa dana yang saya perlukan untuk mencapai milestone berikutnya?
Misalnya, sebuah startup membutuhkan dana untuk:
- membangun MVP;
- merekrut dua orang anggota tim inti;
- mendapatkan 1.000 pengguna awal;
- menjalankan eksperimen customer acquisition;
- dan melakukan validasi willingness to pay.
Maka kebutuhan pendanaan harus dihitung berdasarkan biaya untuk mencapai milestone tersebut, ditambah buffer yang wajar.
Data pasar juga menunjukkan bahwa ukuran pre-seed dapat berubah dari waktu ke waktu dan sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar. Karena itu, angka dari pasar Amerika Serikat atau ekosistem startup tertentu tidak sebaiknya dianggap sebagai standar universal untuk startup Indonesia.
Untuk Apa Pre-Seed Funding Digunakan?
Penggunaan dana harus berhubungan langsung dengan milestone startup.
Beberapa penggunaan yang umum antara lain:
1. Membuat MVP
MVP atau Minimum Viable Product merupakan versi awal produk yang dibuat untuk menguji asumsi utama dan memperoleh feedback pengguna.
MVP tidak harus sempurna.
Yang penting adalah produk tersebut cukup untuk menjawab pertanyaan:
Apakah solusi ini benar-benar dibutuhkan oleh target pengguna?
2. Riset dan Validasi Pasar
Dana dapat digunakan untuk:
- customer interviews;
- market research;
- survei;
- pengujian landing page;
- pilot project;
- eksperimen pricing;
- dan berbagai metode validasi lainnya.
3. Merekrut Tim Inti
Founder mungkin membutuhkan orang dengan kemampuan yang tidak dimilikinya sendiri, misalnya:
- software engineer;
- product manager;
- designer;
- sales;
- marketing;
- atau business development.
Namun, pre-seed bukan berarti founder harus langsung membangun tim besar.
Tim kecil yang tepat sering kali lebih efisien daripada organisasi besar dengan biaya tinggi.
4. Mendapatkan Pengguna Awal
Sebagian dana dapat digunakan untuk melakukan eksperimen akuisisi pengguna.
Tujuannya bukan sekadar mengejar jumlah pengguna, tetapi memahami:
- siapa pengguna terbaik;
- channel akuisisi yang efektif;
- tingkat engagement;
- retention;
- dan willingness to pay.
5. Menyiapkan Operasional Perusahaan
Pre-seed juga dapat digunakan untuk kebutuhan seperti:
- pendirian badan usaha;
- legal;
- accounting;
- software;
- cloud infrastructure;
- domain dan tools;
- serta kebutuhan administratif lainnya.
Siapa yang Biasanya Memberikan Pre-Seed Funding?
Ada beberapa sumber pendanaan yang umum pada tahap ini.
1. Founder
Pendanaan dari dana pribadi founder sering disebut bootstrapping.
Founder menggunakan tabungan atau penghasilan pribadi untuk membangun produk sebelum mencari investor eksternal.
Bootstrapping dapat membantu founder memvalidasi ide terlebih dahulu tanpa langsung memberikan equity kepada investor.
Namun, tidak semua founder memiliki kemampuan finansial untuk melakukan bootstrapping dalam waktu lama.
2. Friends and Family
Founder juga dapat memperoleh modal dari orang-orang terdekat yang percaya terhadap founder dan idenya.
Sumber ini memang dapat menjadi opsi awal, tetapi tetap perlu diperlakukan secara profesional.
Sebaiknya ada:
- kesepakatan tertulis;
- kejelasan apakah dana merupakan investasi atau pinjaman;
- aturan kepemilikan;
- dan pemahaman mengenai risiko.
Hubungan pribadi tidak menghilangkan risiko bisnis.
3. Angel Investor
Angel investor adalah individu yang menggunakan dana pribadi untuk berinvestasi pada perusahaan, sering kali pada tahap awal.
Selain modal, angel investor tertentu juga dapat memberikan:
- mentorship;
- pengalaman industri;
- koneksi;
- akses ke calon pelanggan;
- dan pengenalan kepada investor lain.
4. Incubator dan Accelerator
Program inkubator dan accelerator dapat menawarkan kombinasi:
- pendanaan;
- mentorship;
- pelatihan;
- networking;
- akses investor;
- dan dukungan pengembangan bisnis.
Namun, setiap program memiliki kriteria, struktur pendanaan, dan persyaratan yang berbeda.
Founder perlu memeriksa ketentuan program secara langsung sebelum mendaftar.
5. Pre-Seed Venture Capital
Beberapa venture capital memang berfokus pada startup yang masih sangat awal.
Mereka biasanya mencari startup yang memiliki:
- founder kuat;
- masalah yang jelas;
- peluang pasar;
- solusi yang masuk akal;
- dan sinyal awal bahwa bisnis tersebut dapat berkembang.
6. Grant dan Sumber Non-Dilutive
Startup tertentu juga dapat menggunakan:
- hibah;
- kompetisi;
- program pemerintah;
- atau sumber pendanaan lain yang tidak langsung memberikan kepemilikan saham kepada pemberi dana.
Ini dapat menjadi alternatif menarik, terutama untuk bidang yang membutuhkan biaya riset dan pengembangan besar.
Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Mencari Pre-Seed Funding?
Ini merupakan bagian yang sangat penting.
Kesalahan yang cukup sering dilakukan founder adalah mulai mencari investor sebelum memahami bisnisnya sendiri.
Sebelum melakukan fundraising, setidaknya siapkan beberapa hal berikut.
1. Masalah yang Ingin Diselesaikan Harus Jelas
Investor perlu memahami masalah yang ingin kamu selesaikan.
Masalah tersebut sebaiknya:
- spesifik;
- relevan;
- cukup penting bagi target pengguna;
- memiliki urgensi;
- dan dapat dibuktikan keberadaannya.
Contohnya:
Banyak UMKM kesulitan mendapatkan pembiayaan karena tidak memiliki pencatatan finansial yang rapi.
Pernyataan tersebut lebih informatif dibanding:
Kami ingin membantu UMKM menjadi lebih maju.
Semakin jelas masalahnya, semakin mudah menjelaskan mengapa solusi tersebut diperlukan.
2. Solusi Harus Jelas
Kamu tidak selalu harus memiliki produk sempurna ketika mencari pre-seed.
Namun, kamu harus mampu menjelaskan:
- bagaimana produk bekerja;
- siapa penggunanya;
- bagaimana produk menyelesaikan masalah;
- apa yang membedakannya;
- dan mengapa solusi tersebut berpotensi menjadi bisnis.
Solusi dapat ditunjukkan melalui:
- wireframe;
- prototype;
- demo;
- MVP;
- mockup;
- atau hasil eksperimen.
3. Kenali Market Size
Investor biasanya ingin mengetahui seberapa besar peluang pasar yang tersedia.
Salah satu framework yang sering digunakan adalah:
TAM — Total Addressable Market
Total pasar yang secara teoritis dapat dilayani.
SAM — Serviceable Available Market
Bagian dari TAM yang sesuai dengan produk dan wilayah target.
SOM — Serviceable Obtainable Market
Bagian pasar yang secara realistis dapat diperoleh dalam kondisi tertentu.
Jangan menggunakan angka market size hanya untuk membuat presentasi terlihat besar.
Yang lebih penting adalah menunjukkan:
- dari mana angka tersebut berasal;
- siapa pelanggan target;
- bagaimana pasar berkembang;
- dan bagaimana startup dapat memperoleh bagian dari pasar tersebut.
4. Bangun Tim yang Tepat
Pada tahap pre-seed, investor sering kali memberikan perhatian besar kepada founder dan kemampuan tim.
Hal ini masuk akal karena produk dan model bisnis masih dapat berubah.
Tim yang baik tidak harus besar.
Yang penting adalah terdapat kemampuan yang dibutuhkan untuk mengeksekusi rencana.
Misalnya:
- technical;
- product;
- sales;
- marketing;
- operations.
Jika masih menjadi solo founder, bukan berarti otomatis tidak dapat memperoleh pendanaan.
Namun, kamu sebaiknya dapat menjelaskan:
- kemampuan yang sudah dimiliki;
- kemampuan yang masih kurang;
- siapa yang perlu direkrut;
- dan kapan perekrutan tersebut dilakukan.
5. Miliki Traction yang Bisa Dibuktikan
Traction merupakan salah satu bentuk bukti bahwa startup tidak hanya memiliki ide.
Contoh traction awal:
- waiting list;
- pengguna aktif;
- customer interview;
- prototype testing;
- pilot customer;
- surat minat;
- partnership;
- revenue awal;
- repeat usage;
- atau indikator engagement lainnya.
Misalnya:
100 orang telah mendaftar waiting list.
Informasi tersebut lebih kuat jika dilengkapi dengan:
100 orang dari target pengguna tertentu mendaftar setelah kampanye validasi selama tiga minggu.
Semakin jelas konteksnya, semakin mudah investor memahami kualitas traction tersebut.
Namun, traction bukan berarti harus selalu berupa revenue.
Pada tahap sangat awal, bentuk validasi lain juga dapat relevan.
6. Siapkan Business Model
Founder harus mampu menjawab:
Bagaimana startup ini menghasilkan uang?
Jelaskan:
- siapa yang membayar;
- apa yang mereka bayar;
- berapa harga;
- kapan mereka membayar;
- bagaimana biaya utama terbentuk;
- dan bagaimana bisnis dapat berkembang.
Business model yang masih berubah bukan masalah pada tahap awal.
Yang penting, founder memahami asumsi yang sedang diuji.
7. Buat Pitch Deck
Pitch deck merupakan salah satu dokumen utama dalam fundraising.
Struktur dapat berbeda, tetapi biasanya mencakup:
- Problem
- Solution
- Product
- Market
- Business Model
- Traction
- Competition
- Differentiator
- Go-to-Market
- Team
- Financials
- Funding Ask
- Use of Funds
Pitch deck bukan dokumen untuk memasukkan semua informasi tentang startup.
Tujuannya adalah membuat investor memahami:
masalah → solusi → peluang → bukti → tim → kebutuhan dana → rencana berikutnya.
8. Tentukan Berapa Dana yang Dibutuhkan
Jangan hanya mengatakan:
Kami sedang mencari investor.
Investor akan membutuhkan angka dan alasan.
Misalnya:
Kami mencari pendanaan untuk membangun MVP, merekrut dua orang engineer, melakukan validasi pasar, dan mencapai milestone X dalam periode Y.
Dengan begitu, investor dapat memahami hubungan antara:
jumlah dana → penggunaan dana → milestone.
9. Rapikan Cap Table
Cap table adalah catatan mengenai kepemilikan perusahaan.
Founder perlu mengetahui:
- siapa yang memiliki saham;
- berapa persentasenya;
- apakah ada investor sebelumnya;
- apakah ada option pool;
- dan bagaimana pendanaan baru dapat memengaruhi kepemilikan.
Cap table yang tidak rapi dapat menimbulkan pertanyaan ketika investor melakukan due diligence.
Apa Itu SAFE dan Convertible Note?
Pada tahap awal, menentukan valuasi perusahaan secara tepat bisa sulit karena produk dan revenue mungkin masih terbatas.
Karena itu, sebagian pendanaan pre-seed menggunakan instrumen seperti SAFE atau convertible note.
SAFE
SAFE merupakan singkatan dari Simple Agreement for Future Equity.
Secara sederhana, investor memberikan dana sekarang dan memperoleh hak untuk mendapatkan equity pada kondisi konversi tertentu di masa depan, sesuai dengan ketentuan perjanjian.
SAFE dapat menggunakan mekanisme seperti:
- valuation cap;
- discount;
- atau ketentuan lain sesuai dokumen.
Convertible Note
Convertible note pada dasarnya merupakan instrumen utang yang dapat dikonversikan menjadi equity berdasarkan ketentuan yang telah disepakati.
Perbedaan struktur hukum dan ekonominya dengan SAFE perlu dipahami sebelum founder menandatangani perjanjian.
Karena dokumen pendanaan dapat memiliki konsekuensi hukum dan finansial, founder sebaiknya mendapatkan nasihat profesional sebelum menandatangani perjanjian investasi.
Apa Itu Valuation Cap?
Dalam beberapa SAFE atau convertible note, terdapat istilah valuation cap.
Valuation cap pada dasarnya menetapkan batas valuasi yang digunakan dalam mekanisme konversi sesuai ketentuan instrumen tersebut.
Founder perlu memahami bahwa:
mendapatkan modal bukan berarti pendanaan tersebut "gratis".
Struktur deal akan memengaruhi kepemilikan perusahaan di masa depan.
Karena itu, jangan hanya fokus pada:
Berapa uang yang saya dapat?
Tetapi juga:
Apa konsekuensi kepemilikan dari uang tersebut?
Apa Itu Dilution?
Dilution terjadi ketika persentase kepemilikan pemegang saham berkurang akibat penerbitan saham baru atau mekanisme konversi tertentu.
Misalnya, founder awalnya memiliki 100% perusahaan.
Kemudian perusahaan menerbitkan saham atau instrumen yang kemudian dikonversikan menjadi equity kepada investor.
Setelah transaksi tersebut, persentase kepemilikan founder dapat menjadi lebih kecil.
Dilution bukan otomatis sesuatu yang buruk.
Pendanaan dapat membantu perusahaan menciptakan nilai yang jauh lebih besar.
Namun, founder perlu memahami trade-off antara:
modal yang diperoleh ↔ kepemilikan yang terdilusi.
Pre-Seed Funding vs Seed Funding
Pre-seed dan seed sering dianggap sama karena keduanya merupakan tahap awal.
Namun, keduanya memiliki fokus yang berbeda.
| Faktor | Pre-Seed | Seed |
|---|---|---|
| Tahap | Sangat awal | Setelah validasi awal |
| Produk | Ide, prototype, atau MVP | Produk biasanya sudah lebih matang |
| Revenue | Bisa belum ada | Lebih mungkin sudah mulai ada |
| Fokus | Membuktikan masalah dan solusi | Membuktikan traction dan model bisnis |
| Tujuan | Mencapai milestone awal | Mempersiapkan pertumbuhan |
| Investor | Founder, friends & family, angel, accelerator, pre-seed VC | Angel, seed fund, early-stage VC |
| Instrumen | Sering menggunakan SAFE/note | SAFE/note atau priced equity |
| Risiko | Sangat tinggi | Masih tinggi, tetapi bukti bisnis biasanya lebih banyak |
Batas antara kedua tahap ini tidak selalu kaku.
Ada startup yang sudah mempunyai revenue tetapi masih disebut pre-seed, sementara startup lain dapat melakukan seed round dengan kondisi yang berbeda.
Yang lebih penting adalah kematangan startup dan tujuan pendanaan, bukan sekadar label putaran pendanaan.
Bagaimana Cara Mendapatkan Pre-Seed Funding?
Jika startup sudah siap, proses fundraising dapat dilakukan secara bertahap.
Langkah 1: Validasi Masalah
Pastikan masalah yang ingin diselesaikan benar-benar dialami target pengguna.
Langkah 2: Bangun Solusi Awal
Buat prototype atau MVP yang memungkinkan kamu menguji asumsi.
Langkah 3: Kumpulkan Traction
Cari bukti dari pengguna, customer, partner, atau eksperimen pasar.
Langkah 4: Tentukan Kebutuhan Dana
Hitung biaya dan milestone yang ingin dicapai.
Langkah 5: Siapkan Pitch Deck
Susun cerita startup secara singkat, jelas, dan berbasis data.
Langkah 6: Cari Investor yang Relevan
Jangan menghubungi semua investor secara acak.
Cari investor yang:
- berinvestasi pada tahap pre-seed;
- memahami industri;
- memiliki ticket size yang sesuai;
- berinvestasi di wilayah yang relevan;
- dan memiliki thesis yang cocok.
Langkah 7: Lakukan Outreach
Perkenalkan startup secara singkat dan jelas.
Jika memungkinkan, gunakan warm introduction melalui:
- founder lain;
- mentor;
- accelerator;
- komunitas;
- atau jaringan profesional.
Langkah 8: Investor Meeting
Pada tahap ini, founder harus siap menjelaskan:
- problem;
- solution;
- market;
- traction;
- business model;
- competition;
- team;
- fundraising ask.
Langkah 9: Due Diligence
Investor dapat memeriksa:
- legalitas;
- cap table;
- financial information;
- intellectual property;
- kontrak;
- traction;
- dan informasi penting lainnya.
Langkah 10: Negosiasi dan Closing
Jika investor tertarik, founder akan masuk ke tahap pembahasan terms dan dokumen investasi.
Jangan terburu-buru menandatangani hanya karena mendapatkan tawaran.
Pahami seluruh konsekuensi deal dan gunakan penasihat profesional bila diperlukan.
Apa yang Dicari Investor Pre-Seed?
Investor pre-seed tidak selalu dapat menggunakan revenue atau laporan keuangan sebagai indikator utama.
Karena itu, mereka dapat melihat berbagai sinyal seperti:
- Founder
- pengalaman;
- pemahaman industri;
- kemampuan teknis atau operasional;
- kemampuan belajar;
- dan kemampuan mengeksekusi.
- Problem
Apakah masalah yang ingin diselesaikan benar-benar penting?
Solution
Apakah solusi masuk akal dan dapat dibangun?
Market
Apakah terdapat pasar yang cukup besar?
Traction
Apakah sudah ada bukti bahwa pengguna membutuhkan solusi tersebut?
Business Model
Apakah terdapat cara yang masuk akal untuk menghasilkan pendapatan?
Competition
Siapa kompetitornya dan apa yang membedakan startup tersebut?
Vision
Apakah founder memiliki gambaran jelas mengenai perusahaan yang ingin dibangun?
Apakah Startup Harus Sudah Memiliki Revenue untuk Mendapatkan Pre-Seed Funding?
Tidak selalu.
Pre-seed memang sering dilakukan ketika startup masih belum menghasilkan revenue.
Namun, tidak memiliki revenue bukan berarti founder tidak perlu memiliki bukti.
Jika belum memiliki revenue, founder dapat menunjukkan bentuk validasi lain seperti:
- pengguna;
- waiting list;
- prototype testing;
- pilot;
- customer interview;
- letter of intent;
- partnership;
- engagement;
- atau bukti lain yang relevan.
Intinya bukan sekadar:
Kami belum menghasilkan uang.
Tetapi:
Kami belum menghasilkan uang karena berada pada tahap X, tetapi berikut bukti bahwa pasar membutuhkan solusi kami.
Apakah Harus Sudah Memiliki MVP?
Tidak ada aturan universal bahwa semua startup harus mempunyai MVP sebelum mencari pre-seed.
Namun, semakin matang produk, semakin banyak pula hal yang dapat dibuktikan.
Jika belum memiliki MVP, founder dapat memperkuat fundraising dengan:
- riset pelanggan;
- prototype;
- demo;
- hasil eksperimen;
- waiting list;
- atau bukti lain yang menunjukkan adanya demand.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Founder Saat Mencari Pre-Seed Funding
1. Terlalu Fokus pada Ide
Ide saja tidak cukup.
Founder perlu menunjukkan kemampuan untuk mengeksekusi.
2. Mencari Dana Tanpa Menentukan Milestone
Jangan menentukan jumlah dana hanya karena startup lain mendapatkan nominal tertentu.
Tentukan terlebih dahulu apa yang ingin dicapai.
3. Membesar-besarkan Market Size
Angka TAM yang sangat besar tidak otomatis berarti startup memiliki peluang besar.
Investor akan mempertanyakan bagaimana startup dapat memperoleh pelanggan dari pasar tersebut.
4. Menganggap Pitch Deck sebagai Proposal Bisnis Lengkap
Pitch deck seharusnya jelas dan fokus.
Jangan memasukkan terlalu banyak informasi yang tidak membantu investor memahami peluang bisnis.
5. Tidak Mengetahui Kompetitor
Mengatakan:
Kami tidak memiliki kompetitor.
justru dapat menimbulkan pertanyaan.
Jika tidak ada kompetitor langsung, mungkin pelanggan masih menggunakan solusi alternatif.
6. Tidak Memahami Cap Table
Founder harus mengetahui struktur kepemilikan sebelum menerima pendanaan.
7. Mengabaikan Terms Investasi
Jangan hanya melihat nominal investasi.
Perhatikan juga:
- valuation cap;
- discount;
- equity;
- liquidation preference jika relevan;
- voting rights;
- pro-rata rights;
- dan ketentuan lainnya.
8. Menghubungi Investor yang Tidak Sesuai
Tidak semua VC atau angel investor berinvestasi pada tahap yang sama.
Riset investor sebelum melakukan outreach dapat menghemat waktu.
Tips Agar Pitch Pre-Seed Lebih Meyakinkan
Berikut beberapa prinsip yang dapat digunakan founder:
Jangan hanya menjual mimpi
Tunjukkan bukti yang sudah dimiliki.
Fokus pada masalah
Jelaskan mengapa masalah tersebut penting sebelum menjelaskan fitur produk.
Gunakan data
Data pengguna, customer interviews, conversion rate, retention, revenue, atau hasil eksperimen dapat memperkuat cerita.
Jelaskan penggunaan dana
Investor harus memahami apa yang akan dilakukan dengan modal.
Bangun hubungan sebelum fundraising
Networking sebaiknya tidak dimulai ketika founder sedang kehabisan uang.
Hubungan dengan investor, founder lain, mentor, dan komunitas dapat dibangun jauh sebelum fundraising.
Jangan takut mendapatkan feedback
Penolakan bukan selalu berarti startup tidak memiliki potensi.
Alasan investor menolak dapat memberikan informasi mengenai:
- market;
- traction;
- timing;
- business model;
- team;
- atau positioning.
Gunakan feedback yang relevan untuk memperbaiki startup.
Checklist Sebelum Menghubungi Investor Pre-Seed
Sebelum mulai pitching, gunakan checklist berikut:
| ☐ | Masalah sudah didefinisikan dengan jelas |
| ☐ | Target customer sudah diketahui |
| ☐ | Solusi sudah dapat dijelaskan |
| ☐ | Prototype/MVP sudah tersedia jika relevan |
| ☐ | Ada validasi awal |
| ☐ | Market size sudah dihitung dengan metode yang masuk akal |
| ☐ | Business model sudah dipahami |
| ☐ | Kompetitor sudah dipetakan |
| ☐ | Tim inti sudah jelas |
| ☐ | Pitch deck sudah siap |
| ☐ | Cap table sudah rapi |
| ☐ | Kebutuhan dana sudah dihitung |
| ☐ | Penggunaan dana sudah direncanakan |
| ☐ | Milestone setelah pendanaan sudah ditentukan |
| ☐ | Target investor sudah dibuat |
| ☐ | Founder memahami terms dasar investasi |
Semakin banyak checklist yang dapat dijawab dengan bukti, semakin siap founder untuk memulai fundraising.
Pre-seed funding bukan sekadar uang untuk membangun startup.
Pendanaan ini merupakan bahan bakar untuk membawa startup dari tahap ide atau validasi awal menuju bukti yang lebih kuat mengenai produk, pasar, dan kemampuan tim.
Karena itu, sebelum mulai mencari investor, founder sebaiknya memastikan beberapa fondasi sudah tersedia:
Problem yang jelas → solusi yang masuk akal → market yang dipahami → tim yang mampu mengeksekusi → traction awal → pitch deck → kebutuhan dana yang rasional → milestone yang terukur.
Tidak semua startup harus memiliki revenue besar, MVP sempurna, atau tim yang lengkap sebelum mencari pre-seed.
Tetapi founder harus mampu menunjukkan mengapa startup tersebut layak mendapatkan kesempatan dan apa yang akan dicapai dengan modal yang diberikan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya:
Berapa banyak uang yang bisa saya dapatkan?
Melainkan:
Berapa modal yang saya perlukan untuk mencapai milestone berikutnya, dan bukti apa yang bisa saya hasilkan setelah pendanaan tersebut?
Jika pertanyaan itu sudah dapat dijawab dengan jelas dan didukung data, founder akan jauh lebih siap untuk memasuki proses pre-seed fundraising.
FAQ
1. Apa itu pre-seed funding?
Pre-seed funding adalah pendanaan tahap sangat awal untuk membantu startup membangun dan memvalidasi konsep bisnis sebelum berkembang ke tahap pendanaan berikutnya.
2. Berapa besar pre-seed funding?
Tidak ada nominal universal. Besar pendanaan bergantung pada kebutuhan startup, industri, lokasi, traction, tim, kondisi pasar, dan kesepakatan dengan investor.
3. Siapa yang memberikan pre-seed funding?
Sumbernya dapat berasal dari founder sendiri, friends and family, angel investor, accelerator, incubator, pre-seed VC, serta sumber pendanaan tertentu seperti grant.
4. Apakah startup tanpa revenue bisa mendapatkan pre-seed funding?
Bisa. Pada tahap pre-seed, startup memang dapat belum memiliki revenue. Namun, founder tetap perlu menunjukkan bukti lain bahwa masalah dan solusi yang ditawarkan memiliki potensi.
5. Apakah startup harus mempunyai MVP?
Tidak selalu. Tetapi prototype atau MVP dapat membantu founder memberikan bukti yang lebih konkret mengenai solusi dan respons pengguna.
6. Apa perbedaan pre-seed dan seed funding?
Pre-seed biasanya berfokus pada pembuktian awal masalah, solusi, produk, dan kemampuan tim. Seed biasanya dilakukan ketika startup sudah mempunyai validasi dan traction yang lebih matang.
7. Apa itu SAFE dalam pre-seed funding?
SAFE atau Simple Agreement for Future Equity merupakan salah satu instrumen yang memungkinkan investor memberikan modal dengan hak untuk memperoleh equity di masa depan sesuai ketentuan perjanjian.
8. Apa itu dilution?
Dilution adalah berkurangnya persentase kepemilikan pemegang saham akibat penerbitan saham baru atau konversi instrumen tertentu menjadi equity.
9. Apakah pre-seed funding harus berasal dari venture capital?
Tidak. Founder dapat memperoleh pendanaan dari berbagai sumber, termasuk dana pribadi, friends and family, angel investor, accelerator, grant, dan investor institusional tertentu.
10. Kapan startup sebaiknya mencari pre-seed funding?
Tidak ada waktu yang sama untuk semua startup. Waktu yang tepat bergantung pada kebutuhan modal dan milestone yang ingin dicapai. Founder sebaiknya mengetahui terlebih dahulu apa yang ingin dibuktikan dengan pendanaan tersebut.

