Macaseo.com - Bisnis waralaba atau franchise menjadi salah satu pilihan bagi orang yang ingin memulai usaha dengan sistem bisnis yang sudah tersedia. Berbeda dengan membangun usaha sendiri dari nol, penerima waralaba atau franchisee dapat menjalankan bisnis menggunakan merek, konsep, sistem operasional, dan dukungan yang disediakan oleh pemberi waralaba atau franchisor.
Model bisnis ini menarik terutama bagi calon pengusaha yang belum ingin membangun brand, sistem kerja, dan strategi pemasaran sendiri sejak awal.
Lalu, apa saja keuntungan bisnis waralaba dan apakah model usaha ini benar-benar lebih menguntungkan daripada memulai bisnis secara mandiri?
Jawabannya tidak hanya bergantung pada nama besar sebuah franchise. Biaya investasi, lokasi, kondisi pasar, sistem kerja, kualitas dukungan franchisor, dan kemampuan mengelola usaha juga perlu diperhitungkan.
Apa Itu Bisnis Waralaba?
Secara sederhana, bisnis waralaba adalah model usaha ketika penerima waralaba memperoleh hak untuk menggunakan sistem bisnis dan kekayaan intelektual tertentu dari pemberi waralaba berdasarkan perjanjian.
Di Indonesia, penyelenggaraan waralaba saat ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba. Peraturan tersebut mengatur antara lain kriteria waralaba, prospektus penawaran waralaba, perjanjian waralaba, hak dan kewajiban pemberi maupun penerima waralaba, pendaftaran, pelaporan, pembinaan, pengawasan, larangan, dan sanksi. PP No. 35 Tahun 2024 berlaku sejak 2 September 2024 dan mencabut PP No. 42 Tahun 2007.
Karena itu, calon franchisee sebaiknya tidak hanya melihat popularitas sebuah merek, tetapi juga memahami model kerja sama dan ketentuan yang berlaku sebelum mengambil keputusan.
Apa Saja Keuntungan Bisnis Waralaba?
Ada sejumlah keuntungan bisnis waralaba yang membuat model ini menarik bagi calon pengusaha. Berikut beberapa di antaranya.
1. Tidak Perlu Membangun Brand dari Nol
Salah satu keuntungan bisnis waralaba adalah franchisee dapat menggunakan brand yang sudah dikembangkan oleh franchisor sesuai dengan ketentuan kerja sama.
Dalam bisnis mandiri, membangun merek membutuhkan waktu, biaya, strategi pemasaran, dan konsistensi agar konsumen mulai mengenal serta mempercayainya.
Pada model waralaba, proses tersebut sebagian sudah dilakukan oleh franchisor. Jika merek memiliki reputasi dan basis pelanggan yang baik, franchisee dapat memiliki titik awal yang berbeda dibandingkan usaha baru yang sama sekali belum dikenal.
Namun, popularitas brand tetap perlu diperiksa. Merek yang terkenal tidak otomatis membuat setiap outlet menghasilkan keuntungan.
2. Sistem Bisnis Sudah Tersedia
Keuntungan bisnis franchise lainnya adalah adanya sistem operasional yang telah disiapkan.
Franchisee tidak selalu harus merancang seluruh proses usaha sendiri. Bergantung pada model waralabanya, sistem tersebut dapat mencakup:
- prosedur operasional;
- standar pelayanan;
- tata cara produksi;
- pengelolaan outlet;
- sistem pemasaran;
- standar kualitas produk;
- pengadaan bahan atau perlengkapan tertentu; dan
- prosedur pelaporan.
Sistem yang jelas dapat membantu franchisee memahami bagaimana bisnis seharusnya dijalankan.
Meski demikian, keberadaan sistem tidak berarti bisnis dapat berjalan tanpa pengawasan. Franchisee tetap perlu mengelola karyawan, keuangan, stok, pelayanan, dan operasional sehari-hari dengan baik.
3. Mendapatkan Dukungan dari Franchisor
Franchisee pada umumnya memperoleh dukungan dari franchisor sesuai dengan isi perjanjian waralaba.
Dukungan tersebut dapat berupa pelatihan, panduan operasional, pemasaran, konsultasi, hingga bantuan tertentu dalam persiapan pembukaan outlet.
Bagi pengusaha pemula, dukungan semacam ini dapat membantu mengurangi proses belajar yang harus dimulai dari awal.
Namun, bentuk dan tingkat dukungan tidak selalu sama antara satu franchise dengan lainnya. Karena itu, calon franchisee perlu memeriksa dengan jelas apa saja fasilitas yang benar-benar diberikan sebelum menandatangani perjanjian.
4. Mendapatkan Pelatihan Sebelum Menjalankan Usaha
Pengalaman bisnis yang terbatas dapat menjadi tantangan ketika seseorang membuka usaha sendiri.
Dalam sistem waralaba, franchisor dapat memberikan pelatihan agar franchisee dan timnya memahami standar operasional yang berlaku.
Materi pelatihan dapat berkaitan dengan:
- operasional outlet;
- pelayanan pelanggan;
- pengelolaan produk;
- standar kebersihan;
- administrasi;
- pengelolaan keuangan; dan
- strategi pemasaran.
Pelatihan ini menjadi salah satu nilai tambah franchise, terutama bagi orang yang baru pertama kali mengelola usaha.
Tetap penting untuk memastikan durasi, materi, peserta, serta bentuk pendampingan yang diberikan tercantum secara jelas dalam informasi dan perjanjian kerja sama.
5. Promosi Dapat Terbantu oleh Brand dan Jaringan
Dalam bisnis mandiri, pemilik usaha harus membangun strategi pemasaran sendiri untuk memperkenalkan brand kepada calon pelanggan.
Sementara itu, franchisee dapat memperoleh manfaat dari aktivitas pemasaran yang dilakukan secara terpusat oleh franchisor jika hal tersebut memang menjadi bagian dari sistem waralaba.
Promosi yang dilakukan secara regional atau nasional dapat membantu membangun awareness terhadap merek.
Namun, bukan berarti franchisee tidak membutuhkan pemasaran lokal. Kondisi setiap wilayah berbeda. Outlet tetap perlu memperhatikan karakter konsumen, tingkat persaingan, lokasi, dan kebiasaan pasar setempat.
6. Proses Memulai Usaha Dapat Lebih Terstruktur
Memulai bisnis sendiri membutuhkan banyak keputusan sejak awal, mulai dari menentukan konsep, nama brand, produk, SOP, pemasaran, hingga metode pelayanan.
Waralaba dapat mengurangi sebagian pekerjaan tersebut karena konsep bisnis dan sistemnya telah disiapkan oleh franchisor.
Inilah salah satu alasan franchise sering dipertimbangkan oleh calon pengusaha yang ingin memulai usaha dengan model yang sudah memiliki struktur.
Meski begitu, franchise bukan berarti proses membuka usaha menjadi otomatis mudah. Franchisee tetap harus menyiapkan modal, memilih lokasi, mengurus kebutuhan usaha, merekrut atau mengelola karyawan, serta memastikan outlet berjalan sesuai standar.
7. Lebih Mudah Mengembangkan Outlet dengan Sistem yang Sama
Jika satu outlet berhasil dikelola dengan baik, pemilik dapat mempertimbangkan ekspansi ke lokasi lain.
Model waralaba dapat membantu proses tersebut karena konsep dan prosedur bisnis sudah memiliki standar tertentu. Franchisee tidak harus menciptakan sistem baru untuk setiap outlet.
Namun, ekspansi sebaiknya dilakukan setelah outlet pertama menunjukkan kinerja yang sehat dan pemilik memiliki sumber daya yang cukup.
Membuka banyak outlet tanpa perhitungan dapat meningkatkan kebutuhan modal dan beban operasional.
Apakah Bisnis Waralaba Selalu Menguntungkan?
Tidak.
Ini merupakan hal penting yang sering terlewat ketika membahas keuntungan bisnis waralaba.
Waralaba memberikan sejumlah fasilitas dan sistem yang dapat membantu proses menjalankan usaha, tetapi tidak ada jaminan bahwa sebuah franchise pasti menghasilkan keuntungan.
Hasil bisnis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
- harga produk;
- jumlah pelanggan;
- lokasi outlet;
- tingkat persaingan;
- biaya sewa;
- biaya tenaga kerja;
- biaya bahan baku;
- biaya pemasaran;
- franchise fee;
- royalti jika berlaku;
- kondisi pasar; dan
- kemampuan franchisee mengelola operasional.
Karena itu, istilah seperti “keuntungan stabil” sebaiknya dipahami sebagai potensi atau peluang, bukan jaminan pendapatan.
Apa Risiko dan Kekurangan Bisnis Waralaba?
Selain keuntungan, calon franchisee juga perlu memahami konsekuensinya.
1. Membutuhkan Modal Awal
Pembukaan outlet dapat membutuhkan berbagai pengeluaran, tergantung model bisnisnya. Biaya tersebut dapat meliputi franchise fee, perlengkapan, renovasi, stok awal, sewa tempat, tenaga kerja, dan modal kerja.
Jangan hanya menghitung biaya untuk membuka outlet. Pastikan juga tersedia dana untuk menjalankan bisnis selama periode awal ketika pendapatan belum tentu langsung mencapai target.
2. Ada Aturan yang Harus Dipatuhi
Salah satu karakteristik franchise adalah adanya standar dari franchisor.
Aturan tersebut dapat berkaitan dengan produk, harga, desain outlet, pelayanan, pemasok, promosi, hingga operasional.
Bagi orang yang menginginkan kebebasan penuh dalam mengubah konsep bisnis, sistem waralaba mungkin terasa lebih terbatas dibandingkan bisnis mandiri.
3. Reputasi Brand Berpengaruh pada Outlet
Franchisee tidak hanya mendapatkan manfaat dari nama sebuah brand, tetapi juga dapat menghadapi dampak ketika reputasi jaringan mengalami masalah.
Karena itu, penting untuk melakukan riset terhadap franchisor dan jaringan outletnya sebelum bergabung.
4. Keuntungan Tidak Hanya Ditentukan oleh Nama Brand
Brand yang terkenal dapat membantu menarik perhatian konsumen, tetapi lokasi yang buruk, biaya operasional tinggi, pelayanan yang kurang baik, atau pengelolaan keuangan yang tidak sehat tetap dapat membuat outlet mengalami masalah.
Dengan kata lain, brand adalah salah satu faktor bisnis, bukan satu-satunya penentu keuntungan.
Bisnis Waralaba vs Bisnis Sendiri
Sebelum memilih franchise, calon pengusaha sebaiknya memahami perbedaannya dengan bisnis mandiri.
| Faktor | Bisnis Waralaba | Bisnis Sendiri |
|---|---|---|
| Brand | Menggunakan brand franchisor sesuai perjanjian | Membangun brand sendiri |
| Sistem | Umumnya sudah tersedia | Dikembangkan sendiri |
| SOP | Mengikuti standar franchisor | Dibuat sendiri |
| Pelatihan | Dapat disediakan franchisor | Dicari atau dibuat sendiri |
| Kebebasan inovasi | Mengikuti ketentuan franchise | Lebih fleksibel |
| Pemasaran | Dapat memperoleh dukungan brand | Dilakukan sendiri |
| Biaya | Dapat mencakup franchise fee dan biaya lainnya | Bergantung pada model bisnis |
| Royalti | Dapat berlaku sesuai perjanjian | Tidak ada kewajiban royalti kepada franchisor |
| Dukungan | Tersedia sesuai sistem dan perjanjian | Mandiri |
Tidak ada satu model bisnis yang otomatis cocok untuk semua orang. Pilihan sebaiknya disesuaikan dengan modal, pengalaman, tujuan usaha, dan tingkat kebebasan yang diinginkan.
Bagaimana Cara Menilai Potensi Keuntungan Franchise?
Sebelum membeli franchise, jangan hanya bertanya:
Berapa keuntungan per bulan?
Lebih baik hitung seluruh pemasukan dan pengeluaran secara realistis.
Secara sederhana:
Laba usaha = Pendapatan – Total biaya operasional
Total biaya dapat mencakup sewa tempat, gaji karyawan, bahan baku, listrik, air, pemasaran, pemeliharaan, biaya administrasi, royalti jika ada, serta biaya lain yang muncul dalam operasional.
Calon franchisee juga dapat memperkirakan titik impas atau break-even point (BEP) berdasarkan struktur biaya dan margin bisnis.
Angka yang diberikan franchisor sebaiknya diperlakukan sebagai informasi atau proyeksi yang perlu diverifikasi, bukan sebagai jaminan pendapatan.
Apa yang Perlu Diperiksa Sebelum Membeli Franchise?
Agar tidak hanya tertarik pada nama brand, lakukan pemeriksaan terhadap beberapa aspek berikut:
1. Rekam Jejak Franchisor
Cari tahu berapa lama bisnis berjalan, bagaimana perkembangan outletnya, dan bagaimana reputasinya di pasar.
2. Total Biaya Investasi
Hitung seluruh kebutuhan dana, bukan hanya franchise fee.
3. Isi Perjanjian
Pahami hak dan kewajiban kedua pihak, masa kerja sama, ketentuan perpanjangan, wilayah usaha, biaya, serta ketentuan penghentian kerja sama.
4. Dukungan yang Diberikan
Pastikan bentuk pelatihan, pemasaran, operasional, dan pendampingan benar-benar jelas.
5. Kondisi Lokasi
Lokasi sangat berpengaruh terhadap bisnis berbasis outlet. Perhatikan jumlah calon pelanggan, akses, biaya sewa, kompetitor, dan karakteristik area.
6. Struktur Biaya dan Margin
Jangan hanya melihat omzet. Yang lebih penting adalah berapa biaya yang harus dikeluarkan dan berapa laba yang secara realistis dapat tersisa.
7. Prospek Pasar
Pastikan produk atau jasa yang ditawarkan memiliki pasar yang sesuai di lokasi yang dituju.
Keuntungan bisnis waralaba terutama berasal dari adanya brand, sistem operasional, SOP, pelatihan, dan dukungan franchisor yang dapat membantu calon pengusaha memulai bisnis dengan struktur yang sudah tersedia.
Model ini dapat menjadi pilihan bagi orang yang tidak ingin membangun brand dan sistem usaha dari nol. Namun, waralaba bukan jaminan keuntungan dan bukan berarti bebas dari risiko.
Sebelum membeli franchise, lakukan riset terhadap franchisor, hitung seluruh kebutuhan modal dan biaya operasional, pelajari perjanjian, periksa kondisi pasar, serta buat perhitungan potensi pendapatan secara realistis.
Dengan memahami keuntungan sekaligus keterbatasannya, calon franchisee dapat membuat keputusan bisnis berdasarkan kondisi usaha yang sebenarnya, bukan hanya karena tertarik pada popularitas sebuah brand.
FAQ
1. Apa keuntungan bisnis waralaba?
Keuntungan bisnis waralaba antara lain dapat menggunakan brand yang telah dikembangkan, memperoleh sistem operasional dan SOP, mendapatkan pelatihan, serta memperoleh dukungan dari franchisor sesuai dengan perjanjian waralaba.
2. Apakah bisnis waralaba menguntungkan?
Bisnis waralaba dapat memberikan peluang keuntungan, tetapi tidak menjamin keuntungan. Hasilnya dipengaruhi oleh lokasi, biaya investasi, biaya operasional, permintaan pasar, persaingan, dan kemampuan franchisee dalam mengelola bisnis.
3. Apa keuntungan bisnis franchise bagi pemula?
Pemula dapat terbantu karena tidak harus membangun seluruh konsep bisnis dari awal. Sistem, SOP, pelatihan, dan dukungan tertentu dapat disediakan oleh franchisor sesuai dengan model waralaba yang ditawarkan.
4. Apa kekurangan bisnis waralaba?
Kekurangan atau konsekuensinya dapat berupa kebutuhan modal awal, franchise fee, royalti jika berlaku, keterikatan terhadap standar franchisor, keterbatasan inovasi, serta ketergantungan pada reputasi brand.
5. Apakah franchise lebih baik daripada bisnis sendiri?
Franchise dan bisnis sendiri memiliki karakteristik berbeda. Franchise menawarkan sistem dan brand yang telah tersedia, sedangkan bisnis mandiri memberikan kebebasan lebih besar dalam menentukan konsep, brand, produk, dan operasional.
6. Apa saja yang harus diperhatikan sebelum membeli franchise?
Periksa reputasi franchisor, total investasi, biaya operasional, isi perjanjian, dukungan yang diberikan, kondisi lokasi, persaingan, permintaan pasar, serta potensi pendapatan dan laba secara realistis.


